Api Belum Sepenuhnya Padam, Mempawah Perpanjang Tanggap Darurat Karhutla hingga 6 Oktober

Evaluasi Satgas turut mencakup perkembangan titik panas, luasan lahan terbakar, kondisi kualitas udara, dampak asap terhadap masyarakat, prakiraan cuaca, serta kesiapan personel dan peralatan pemadaman.

Mempawah, Diskominfo - Pemerintah Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, belum menurunkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berpotensi memicu bencana asap.

Pemkab Mempawah kembali memperpanjang status tanggap darurat bencana asap akibat karhutla selama 14 hari, terhitung mulai 23 September hingga 6 Oktober 2026.

Keputusan tersebut diambil dalam rapat evaluasi Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Bencana Asap Karhutla Kabupaten Mempawah di Aula LLKUKM Mempawah, Selasa (22/9/2026) malam.

Rapat dipimpin Wakil Bupati Mempawah Juli Suryadi Burdadi dan dihadiri unsur Forkopimda serta sejumlah instansi terkait. Evaluasi dilakukan untuk melihat perkembangan karhutla sekaligus menentukan langkah penanganan pada periode berikutnya.

Juli menegaskan, perpanjangan status tanggap darurat bukan sekadar keputusan administratif. Pemerintah daerah mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca dan dinamika iklim hingga wilayah yang masih membutuhkan pengawasan intensif.

"Kita harus melihat kondisi secara menyeluruh dan berdasarkan data faktual. Dari perkembangan titik panas, kualitas udara, prakiraan cuaca hingga kesiapan sumber daya yang kita miliki," kata Juli.

Evaluasi Satgas turut mencakup perkembangan titik panas, luasan lahan terbakar, kondisi kualitas udara, dampak asap terhadap masyarakat, prakiraan cuaca, serta kesiapan personel dan peralatan pemadaman.

Salah satu tantangan dalam penanganan karhutla di Mempawah adalah karakteristik lahan yang terbakar. Sebagian titik berada di kawasan gambut dengan kedalaman cukup tinggi.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak mudah. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga membutuhkan penanganan lebih intensif serta dukungan sumber daya yang lebih besar.

Apresiasi untuk Personel Satgas

Di tengah upaya penanganan yang masih berlangsung, Juli menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang tergabung dalam Satgas Karhutla.

Menurutnya, personel gabungan selama ini telah bekerja maksimal di lapangan, baik dalam memadamkan titik api maupun mencegah kebakaran meluas.

Apresiasi diberikan kepada BPBD, TNI, Polri, KPH, Manggala Agni, pemadam kebakaran swasta, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga para relawan.

"Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh personel Satgas Karhutla yang tanpa kenal lelah terus berada di lapangan untuk memadamkan titik api dan menanggulangi bencana asap," ujarnya.

Meski demikian, perpanjangan status tanggap darurat menjadi penanda bahwa penanganan karhutla di Mempawah masih membutuhkan kewaspadaan tinggi.

Juli meminta intensitas pengawasan dan penanganan di lapangan tetap dipertahankan. Patroli di kawasan rawan karhutla juga harus ditingkatkan guna mengantisipasi munculnya titik api baru.

Upaya penanganan, kata dia, tidak hanya berfokus pada pemadaman. Pencegahan dan edukasi kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menekan risiko karhutla.

Sosialisasi larangan membuka lahan dengan cara membakar harus terus dilakukan, terutama ketika kondisi menunjukkan risiko kebakaran tinggi.

Di sisi lain, penegakan hukum terhadap pelanggaran juga diminta berjalan secara konsisten sebagai bagian dari upaya mencegah terulangnya kebakaran hutan dan lahan.






 

LINK TERKAIT